Praktek Metode KonMari Tahap 2 : Buku





Hi. Bagaimana kabar merapikanmu? Maaf, baru sempat update lagi. Semoga  ada yang sudah berhasil melalui Metode KonMari Tahap Pertama, ya.


Setelah melalui tahap pakaian dan berbagai pernik fesyen pengiringnya, mari kita mulai masuk tahap berikutnya yang bagi beberapa orang...ehm...berat.  Yaitu buku.  Bahkan ada yang bisa menyerah ditahap ini, lho.  Berani mencoba?

Kenapa buku lebih sulit daripada pakaian? Karena sudah menjadi bagian dari diri, alias sisi sentimentil juga berperan.  Kalau kamu merasa susah ditahap ini jangan khawatir, kamu nggak sendirian *nunjuk diri sendiri*.

Tarik nafas, yuk, mulai....

 Apa yang dibutuhkan? Kalau tahap pakaian kemarin 'kan kantong plastik hitam. Untuk buku nggak mungkinlah pakai kantung plastik. Bisa jebol. Jadi kita butuh kardus-kardus.  Atau storage untuk penyimpanan sementara.


Bagi Menjadi 4 Kelompok Besar

Aku memulai dengan menebar semua buku dan majalah (pokoknya yang berstatus bacaan) di lantai. Hampir sama seperti tahap dengan pakaian.
Setelah itu, sesuai petunjuk Marie Kondo, aku mengaturnya menjadi beberapa kelompok :
  1. Bacaan umum, yaitu buku yang biasa dibaca untuk menyenangkan diri
  2. Praktikal, yaitu berbagai jenis buku referensi, buku masak, buku panduan, dsb.
  3. Visual, yaitu buku-buku yang berisi kumpulan gambar-gambar, misal tentang fotografi
  4. Majalah
Akhirnya kususun di lantai menjadi 4 baris. Phew. Seperti mau upacara saja.  Setelah itu aku mennyortir buku-buku di lantai SATU-SATU. Betul, harus satu-satu.
Caranya :
Ambil satu buku, sentuh, kalau perlu dekap, dan rasakan "spark joy"-nya.
Bila dirasa dengan menyentuh saja sudah bisa memilah, boleh cukup disentuh saja.  Untuk buku berseri cukup banyak, misal novel berseri atau komik, kamu bisa menjadikannya satu tumpukan (perseri), kemudian telungkupkan diri kamu diatasnya dalam posisi memeluk. Rasakan.
Lucu? Iya.  Tapi lebih cepat, ketimbang kita harus memilahnya satu persatu.

Yang nggak boleh kita lakukan adalah MEMBUKA BUKU apalagi membacanya ya!! Jangan.
Aku sempat bandel ketika melalui tahap ini. Nggak tahan. Awalnya lancar memilah, tapi ketika ada godaan batman untuk mengintip dan membaca sedikit, mulai, deh tersendat-sendat. Dan emosi sentimentil mulai bermain. Setelah dibaca-baca kok bagus yaaa...
Jangan lakukan kesalahan ini.

Kalahkan Alasan Untuk Menumpuk Buku
Di tahap ini banyak suara-suara di kepala yang kebanyakan alasan untuk menahan buku. Terutama bagi buku-buku yang :

a) Buku baru belum terbuka
b) Buku sudah terbuka tapi belum dibaca
c) Buku belum selesai dibaca
d) Buku Koleksi
e) Buku Referensi
f) Buku disimpan karena nilai kenangan

Spesial untuk poin f),  daripada kita mogok macet, Marie Kondo menyarankan agar kita simpan dulu bukunya buat KonMari tahap terakhir. Jadi dimasukkan ke kategori barang sentimentil/nostalgia.

Sementara  poin a) sampai e)  selain mencari  "spark joy" pada buku yang disentuh kita juga perlu mengingat fakta ini bila ada keraguan di hati :
Seberapa sering dan butuh kita menjenguk buku itu untuk dibuka-buka?
Apakah buku yang niatnya akan dibaca nanti beneran akhirnya dibaca?
Dan seperti palu raksasa kenyataan, yang menggetok kepalaku, jawaban umumnya untuk kasusku adalah : hampir nggak pernah kejadian.
Jadi buat apa ??

Ngg..anuuuu....
Menurut Marie Kondo sendiri, untuk buku referensi saja hanya 15% kemungkinan membaca kembali dilakukan. Jadi harus dites  kesungguhan serta kebutuhan kita dengan mendonasikan buku tersebut. Kalau setelah disingkirkan ternyata merasa tidak bisa hidup tanpanya (aaah), ya, beli saja lagi. Dan kali benar-benar dibaca!

Kamu boleh setuju atau nggak dengan cara ini. Semoga buku kamu nggak mahal-mahal amat, ya. Haha

Aku memutuskan untuk mendonasikan beberapa buku referensi yang herannya masih betah disimpan. Padahal itu sudah jadul dan ketinggalan jaman banget. Dan buku-buku pedia...aduh, di masa google begini, please, deh. Apa yang kupikirkan, coba?

Menyortir Majalah

Saat menyortir majalah, kadang ada perasaan spark joy yang sedang-sedang saja. Jadi kubuka majalah tersebut dan melihat artikel apa yang kusuka. Kemudian kusobek dan atau kliping bagian yang menarik. Sisanya, discard.

Tahap ini juga pernah dilalui Marie Kondo. Mulai dari mencatat, memfoto-kopi bahkan mengklipping. Tapi akhirnya masuk tong sampah juga hahaha...Nggak apa-apa, deh. Aku coba dulu saja.

Menyusun Kembali 

Saat menyusun kembali, sebaiknya berdasarkan kategori di dalam rak. Karena sudah banyak berkurang, jadi lebih mudah.

Sebaiknya disusun seatraktif mungkin, sekarang tanpa usaha banyak.  Bukankah buku-buku yang tersisa adalah buku yang membuat hati empunya senang? Namun  hati orang lain atau tamu belum tentu suka juga 'kan,  jadi tidak salahnya dibenahi sedikit estetika penyusunannya. Prinsipnya buku akan tampak lebih menarik bila disusun tegak dalam rak vertikal.

Aku mencoba menyesuaikan penyusunan dengan empat kategori diatas. Kecuali buku resep, ya. Itu bebas, bisa ditaruh di dekat dapur.

Dialihkan Kemana? 

Beberapa alternatif  kemana buku-buku kita akan pergi (lihat temanya juga, yak) :
1. Didonasikan, bisa ke perpustakaan sekolah, rumah ibadah, rumah anak yatim, teman, dsb.
2. Pergi ke lapak-lapak pembeli buku bekas. Kalau mujur, bisa dikasih harga bagus.
3. Dikiloin (ini untuk yang udah kelewat tua dan bentuknya nggak keruan)

Kamu mau jual online silahkan. Tetapi kalau kelamaan prosesnya, dibikin banting harga saja. Karena metode ini mementingkan timing pembersihan kilat. Kalau tidak, percuma, kita tidak merasakan efek yang akan menghantam jiwa.
Ada cara lain? Share dong...


Moral of The Story
Hikmah atau moral of the story dari tahap ini lumayan gede buatku.  Dalam waktu satu hari saja aku jadi belajar bahwa :
  • Kalau beli buku itu mendingan LANGSUNG BACA. Jangan di keep kelamaan. Jadi informasinya langsung dapat dan nggak sia-sia. Serta tahu buku tersebut layak simpan atau perlu dijual lagi (!) selekasnya.
  • Menyortir buku bacaan umum : semakin paham genre cerita mana yang benar-benar disuka. Jadi lain kali nggak akan buang-buang waktu untuk tergoda icip-icip genre lain.
  • Menyortir buku referensi : jadi mulai mengerti topik apa yang layak punya dalam hidup ini (tsaah). Seperti puzzle petunjuk ke arah passion sesungguhnya. Kalau ingin tahu apa minat dan passionmu, saranku...coba, deh, sortir buku-buku referensimu dengan metode ini!
  • Saat bukunya sudah nggak ada, informasi yang disimpan oleh buku itu malah muncul lebih jelas di ingatan. Bahkan cerita yang bila dibaca sebetulnya biasa-biasa, dalam kenangan menjelma seperti film kolosal banget. Haha.  Otak dipaksa untuk menggali ingatan jangka panjang. Ini bisa melatih ingatan juga, ya?
--
Jadi, bagaimana kondisi perbukuanmu? Apakah sudah pernah melakukan penyortiran dan apa kesulitannya?

Image : Alessandro Cattelan for FI, rebloggy.com, giphy.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram