Kasus Mommy Blogger di USA


Heather Armstrong dulunya masuk circle mommy blogger, yang bahkan bisa disebut Ratu -nya. Begitu pula Josi Denise. Mereka berdua menghasilkan banyak sekali uang dari pekerjaannya sebagai blogger.



Tapi apa yang kemudian terjadi? Mereka capek. Dan berhenti. Bahkan Josi Denise mengeluarkan perkataan yang kontroversial bahwa blogging industry itu adalah sejenis scam.

Ini cukup mengagetkan karena dari industri seperti itulah dia dulu hidup.

Heather Armstrong juga mengalami hal yang sama. Dia menyatakan sudah capek dan merasa tidak puas. "Aku nggak bisa jadi orang ITU". Demikian dia menyebutkan imej dirinya selama ini.

Heather Armstong termasuk beruntung karena memulai profesi ini sebagai pionir. Ia memulainya tahun 2002, sementara Josi Denise merangkak keatas perlahan dari tahun 2013.  Semua dimulai dari keinginan mereka berdua yang murni untuk menulis, kemudian sharing hal-hal keseharian dalam kehidupan seperti masalah sepele mengurus anak, pergi liburan bersama anak, dsb.

Tulisan mereka menarik audiens dan trafik menjadi besar dan besar. Hingga kemudian  mereka jadi mom blogger dengan bayaran cukup tinggi di industri ini. Sederetan brand besar mengajak mereka bekerja sama.

Menurut Josi Denise sendiri,  kondisi psikisnya saat itu : dia dalam keadaan tidak memiliki tempat untuk aktualisasi diri (karena tinggal di rumah mengurus anak setelah harus berhenti bekerja). Ada prestise dan rasa hebat bila kemudian brand-brand besar mengajak bekerjasama.

Tetapi kemudian kedua mom blogger diatas mengaku "lelah" dan merasa "tidak jadi diri sendiri ", karena bayangkan, untuk menulis pos sebuah peristiwa seperti thanksgiving saja semua harus di-setting lebih dahulu, sehari sebelumnya. Jalan kesana dan kesini diatur. Dan seringkali, semua foto yang hadir di IG atau blog itu bukan terjadi pada SAAT ITU, melainkan sudah melalui proses editing berhari-hari sebelumnya.

Lama kelamaan semua aspek kehidupan mereka terasa diatur oleh berbagai tuntutan dari industri.
Di awal-awal, memang permintaan sponsor hanya sekedar menampilkan logo, kemudian berlanjut ke permintaan foto produk, berkembang menjadi "foto anak-anak", demikian Heather bertutur kepada koran online "The Guardian".

Sebagai informasi saja di Amerika Serikat melibatkan anak dalam sebuah "sponsored post" adalah hal sensitif,  karena menyangkut etika. Membicarakan itu dalam sebuah interview bisa mengundang berbagai bully dari komentator.

Pernah suatu kali Heather bercuit di twitter, agak ter-curcol :
"Aku mengeksploitasi anakku demi jutaan dollar di "mommyblog"-ku"
Setelah terkenal, untuk mengelola blognya dia sampai harus mengerahkan tenaga suami dan memperkerjakan asisten!

Hal ironis pun terjadi di tengah kesuksesan ; kedua mommy bloggers tersebut berpisah dengan suami. Tentunya ini menjadi perhatian pembaca, terutama karena keseharian mereka sudah menjadi konsumsi publik,  istilahnya kadung merasa "kenal". Padahal itu bukan sesuatu yang ingin dibagi, tapi berlaku hukum tidak terlihat dari pembaca fanatik : bila ada sesuatu yang mereka tidak ketahui karena para mommy bloggers itu pilih untuk disimpan saja, mereka akan marah. Pembaca merasa sudah berinvestasi waktu untuk mambuka blog.

Puncaknya pada Heather, ketika ia mau melakukan foto untuk kepentingan blog, anak-anaknya menolak, sampai menangis memohon-mohon.  Itu membuat dia jadi berpikir ulang kembali tentang segala hal yang dilakukannya selama ini.   Apalagi ketika  ia menolak mempublikasikan foto anaknya lagi, ada yang protes keras.

Menurut Heather,  industri berubah, sekarang sudah bukan eranya mendapat pemasukan dari banner advertising saja, blogger harus melakukan sponsored posts, menulis untuk tujuan menjual yang dibarengi kisah-kisah tentang keluarga blogger itu sendiri.

Hal yang tentu bisa mencapai puncaknya.

Josi sendiri bergulat dengan kata hati karena merasa selama ini bukan jadi diri sendiri. Setelah berhenti ia memutuskan untuk menjalani "hidup yang sebenarnya" dengan tinggal di pedesaan bersama suami baru dan keluarga. Mungkin tidak ada lagi tekanan harus melakukan pos tentang hal tertentu dalam jumlah tertentu. Yang ada menulis sesuai keinginan.


Heather Armstrong dan Josi Denise

Dua wanita itu sudah melewati fase tersebut dan memilih kembali ke kehidupan yang lebih simpel, menulis untuk diri sendiri.  Sementara kita di Indonesia sedang ramai-ramainya bersemangat melalui apa yang sudah mereka jalani. Mungkinkah kasus mereka adalah sebuah kesimpulan atau hanya sekedar proses seleksi alam? Hanya waktu yang bisa menjawab untuk masing-masing pencarian pribadi.

Pertanyaannya, sampai kapan trend ini bertahan? Apakah ada yang sudah merasakan sindrom seperti kedua mom blogger diatas? Kapan kamu tahu saat yang tepat untuk berhenti atau membatasi diri? Bagi yang niat awalnya terjun "ngeblog" karena memang ingin share, sejauh mana tuntutan dari pihak sponsor mempengaruhi konten?

Sources: nymagazine.com, dailydot.com, theguardian.com, problogger.com
Image : freeimages.com, flickr.com, businessinsider.comJames About McNeils "Whistlerpixabay.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram