Digital Minimalism : Sebuah Trend Baru


Siapa millennials yang tidak kenal dengan istilah FOMO (Fear Of Missing Out)? Sebuah gejala sosial yang hinggap dalam manusia modern ; kebiasaan untuk terkoneksi dengan internet dan sosial media.
Jika tiba-tiba saja koneksi hilang atau gadget tertinggal di rumah, pemiliknya akan langsung merasa resah gelisah.

“Bagaimana kalau....bagaimana kalau....?”

Dunia memang tetap berputar walaupun kita missed banyak informasi. Tapi apa yang terjadi selama jeda waktu itu?

Kepo.

Ketakutan.

Tercipta sebutan lain yaitu FOBO (Fear of Being Offline) yang bisa dijabarkan juga sebagai Fear of Better Opportunities, Fear of Better Options, Fear of Bussiness Opportunities atau Fear of Being ObsoloteDan fear-fear lainnya. Ciri-ciri : dipenuhi ketakutan serta keraguan dalam pengambilan keputusan, khawatir akan kemungkinan datangnya kesempatan yang lebih bagus lagi.

Benang merah dari semua adalah sama yaitu ketergantungan pada informasi terbaru secara terus menerus.

Di negara-negara maju, hal demikian sudah menjadi obyek penelitian dan sudah menimbulkan arus balik.  Tercetuslah FOBO yang lain. Yaitu Fear of Burning Out.
Burnout adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger pada tahun 1974 - Wikipedia
Dipopulerkan oleh Calvin Newport penulis buku  Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World. Beliau adalah associate professor di bidang ilmu komputer yang bahkan tidak punya Facebook, dan tampak menikmati kehidupan yang banyak missing out – terlewat akan banyak hal.

“Less can be more.” demikian ucapannya dikutip dari Fast Company.

Unsur adiksi menyebabkan FOMO memiliki  bahaya yang lebih menakutkan yaitu FOBO- Fear of Burning Out!

Masuk akal memang, menurutku. Kita kebanyakan dijejali berbagai informasi yang belum tentu kita berminat untuk tahu (tapi sudah terlanjur lihat) sehingga malah melewatkan yang sifatnya perlu, dan malah terbawa perasaan.

Untuk apa kita tahu kawan kita yang tinggalnya hanya berjarak 10 meter, sedang ada dimana? Butuh sekalikah melihat apa yang  sedang dimakan hari ini oleh kerabat dan sepupu tetangganya saudara, yang kebetulan jadi friends di sosial media?

Apalagi bila informasi itu tidak valid. Sudah buang waktu lihat dan baca dan bereaksi,  ternyata bohong. Cape deh...Apalagi kalau reaksi kita sudah dilihat orang. Malu juga ‘kan.

Ketika orang bertanya-tanya apakah digitalisasi membuat hidup lebih mudah dan praktis? 

Jawabannya sudah bisa dilihat sekarang....

Karena FOBO lebih berbahaya dari FOMO.

Bermunculan para pelopor yang menawarkan berbagai solusi mengatasi problematika  tersebut. Mulai dari membuat digital detox sampai melakukan digital minimalism.

Jadi ingat cerita seseorang tentang pengalamannya saat mencoba berhenti menggunakan gadget selama beberapa waktu. Hasilnya :  jadi kerepotan sendiri, karena susah untuk bikin janji!  Digital detox memang memiliki konsekuensi-konsekuensi tersendiri yang harus siap diterima.

Digital minimalism masih bisa diterima oleh banyak orang karena tidak seekstrim yang pertama.  Ini kurang lebih mirip dengan gaya hidup minimalis.  Jadi bukan menyingkirkan semua melainkan menentukan mana yang penting untuk kita dan membuat hati bahagia.  Prinsip yang sama kupelajari dari metode KonMari, simpan saja yang ada “spark joy”.

Setiap langkah harus diawali dengan niat dan gambaran.  Apa yang kita ingin dapatkan ketika membuka layar? Mulai dengan membuat prioritas.

Memang belum lama memulai tahap ini, tapi aku berbagi pengalaman saat menerapkan digital minimalism. Tahap-tahapannya sebagai berikut :

Menyederhanakan Sosial Media

Salah satu contoh kasusku adalah Facebook. Dalam menyederhanakan, aku memiliki beberapa opsi :
a.Mengubah Facebook Profile menjadi Facebook Page
Ini ada caranya lho silahkan di cek.  Tentu saja ini adalah pilihan masing-masing individu sesuai dengan kebutuhannya.  Sedikit berbeda dengan sang profesor dan beberapa kawan yang  memilih tidak punya facebook,  sementara ini aku masih melihat “spark joy” dan manfaat dari beberapa grup.
Tidak seperti Facebook Profile, Facebook Page membuat kita tidak perlu memusingkan accept dan reject friends atau siapa friends yang perlu difollow dan unfollow.  Semua orang bisa follow postingan kita.  Facebook Profile sendiri bisa tidak difungsikan dengan memiliki 0 friends. Hal itu akan membuat para pengunjung tidak akan ditemukan tombol add friends disana. Satu-satunya fungsi akun tersebut yang masih kufungsikan adalah untuk fasilitas grup saja.
b. Tetap Punya Facebook  Tapi Tidak Membukanya
Biasanya selalu dengan harapan, suatu saat pasti dibutuhkan, bila kita ingin mempromosikan sesuatu. Tapi dari apa yang sempat kupelajari dari sebuah pelatihan marketing online , Facebook tampaknya memiliki algoritma yang mengharuskan kita untuk aktif bermain, alias posting, berkomentar di postingan orang lain dan memberi like, agar suatu saat postingan kita bisa muncul di newsfeed utama friends.  Bila jarang dipakai... what’s the point?
c. Melakukan Seleksi Pada Facebook
Yaitu pembersihan di akun agar kita hanya melihat post yang kita inginkan. Senjata  tombol unfriend, follow,  dan unfollow (bahkan ada yang semua orang di unfollow lol). Aku tidak memilih itu, untuk alasan kepraktisan.
Akhirnya pilihan jatuh pada poin a). Sebelum melakukan pengubahan, tentu aku tidak lupa melakukan back up atas nomor telpon dan e-mail kawan-kawan dunia nyata yang benar-benar kukenal.
Melakukan Kategorisasi
 

Dalam metode KonMari ,  sangat penting melakukan kategorisasi barang sebelum disortir. Demikian juga yang kulakukan pada akun instagram, dan folder e-mail.
  • Instagram aku memfollow berdasar  kategori, berdasar  jenis akun yang sedang kubuka.  Jadi hanya informasi yang diperlukan saja yang kulihat. Biasanya aku hanya buka pada saat-saat tertentu saja, seperti kala santai atau ingin upload gambar.
  • E-mail : Masih dalam taraf percobaan, aku membuat kategorisasi dalam setiap folder untuk email yang masuk. Masukkan e-mail yang datang seusai kategori kemudian sortir/proses perkategori sehingga kosong.
Daily Clearance
Alias bersih-bersih. Ini diterapkan untuk group chat seperti WA. Khusus untuk group yang memiliki traffic tinggi, tanyakan kembali : "Apakah saya benar-benar memerlukannya?"
Pilih yang benar-benar penting dan membuat hati gembira.
Tapi ada kalanya kita terpaksa harus jadi anggota sebuah group chat, padahal isinya tidak selalu membuat hati gembira. Namun apa daya, kita harus bertahan, entah itu demi pekerjaan, hubungan sosial, atau informasi penting yang hanya bisa didapat disana. Bila demikian yang terjadi, coba gunakan saja metode clear chat yang bisa dilakukan setiap hari (sebaiknya pagi).

Tips : Tandai bintang percakapan yang penting-penting  kemudian lakukan clear chat.

Setelah melakukan tindakan itu, akan hadir efek psikologis yang kuat. Apalagi saat membuka group, yang kemudian terbaca hanyalah informasi yang betul-betul kita sukai dan butuhkan. Selain lebih membuat senang juga lebih efisien, seperti guide book.
Perlakukan Sosial Media Yang Sering Dibuka Dengan Hati-hati
Maksudnya,  hanya buka untuk posting hal-hal yang akan membuat diri senang. Dan tidak perlu baca semua postingan! Karena bila arusnya demikian cepat,  itu mirip kita tengah melawan arus tsunami informasi. Lalu ketika akan memposting....
Tanyakan selalu : “Apakah bila suatu waktu membuka sosmed ini dalam suasana berbeda, senangkah saya dengan postingan ini?”
Dalam kasusku sosial media yang sering dibuka adalah twitter. Karena karakternya sedikit, informasinya juga lebih deras mengalir.  Aku berusaha mengikuti berita yang  diminati saja,  dan hanya meng-klik link saat benar-benar membutuhkan informasi tersebut. Kemudian pergi.

Membagi waktu berlayar. Bisakah?

Time Management
Ada jam-jam dan kondisi dimana kita tidak perlu sosmed atau group chat. Selama waktu itu yang dianjurkan menyalakan gadget pada opsi airplane mode.
Sederhanakan Jumlah Tab
 
Metode ini dianjurkan para pakar time management. Saat membuka internet, pada window kita jangan sampai dibuka tab baru.  Cukup satu saja. Itu akan membuat kita terhindar dari godaan “berselancar” kemana-mana.
Simpan Gadget Saat Berhadapan dengan Manusia
Ketika berhadapan dengan manusia, yaitu keluarga, pasangan, teman, kita perlu berusaha menyimpan sementara gadget demi menghargai keberadaan mereka.
----
Dampak selama ini yang bisa kurasakan langsung, hidup terasa lebih tenang dan dami, punya otoritas lebih dalam menentukan informasi yang masuk ke kepala, akibatnya diharapkan jadi bisa lebih menjaga obyektifitas.
Saat menjauh dari sosial media dan mulai kembali berkomunikasi secara pribadi dengan kawan dunia nyata (bukan di group chat),  hasilnya aku jadi lebih banyak bertukar kabar, sampai saling janji untuk bertemu secara offline.
Kemudian dalam keluarga, bila kita mencontohkan dari diri sendiri dulu ketimbang menasehati kanan-kiri, akan banyak yang jadi terinspirasi setelah melihat bahwa hal itu ternyata bisa dilakukan. Dan dinikmati, tentunya.
There IS life beyond the internet. 
---
Apakah kamu sudah mulai merasakan pentingnya melakukan minimalisasi digital atau digital minimalism dalam kehidupan? Apa saja cara yang sudah dilakukan? Yuk, di share...

Source : zenhabits.net, beingminimalist.com, fastcompany.com
Semua gambar selain logo diambil dari dokumentasi pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram