Tips Praktis & Aman Merespon Komentar di Blog & Medsos



Jadi blog dan medsos kita dapat komentar nih. Horeee. Perayaan! Confetti! Tapi kok suka ada yang berbeda dari yang diharapkan. Bagaimana ya?



Pertama-tama kita kembali ke apa tujuan kita ngeblog atau bermedsos. Niatan orang beda-beda. Ada yang niatnya cuma buang sampah doang alias nulis aja tanpa peduli ada yang komen atau baca. Kalau menulis dengan niatan terapik, abaikan pos ini. Tapi bila anda senang tulisan dibaca, apalagi dikomentari, mari sama-sama bahas.

Dalam pengamatanku, ada tipe tulisan yang rawan yaitu curhat dan opini. Kategori atau judul curhat mungkin lebih mudah dideteksi pembaca. Tapi kalau opini (bentuk bukan artikel seperti di portal resmi) pengalaman di lapangan, ternyata suka beda tipiiis sekali dengan curhat... ada visi, emosi, sejarah masa lalu, semua erat dengan berbagai bentuk emosi mengalir disana.

Yang namanya curhat kita tentu kepinginnya disetujui dan didengerin dong? Ketika ada yang berpendapat sebaliknya, ketimbang setuju atau memberikan komentar menghibur, mungkin sama rasanya seperti kalau lagi curhat ke pasangan tapi dikasihnya nasehat atau solusi melulu...*pst cowok, ini titipan curcol para cewek LOL*

Merespon sebuah komentar itu gampang-gampang susah. Kadang kita dihadapkan pada tipe komentar yang tidak kita harapkan itu.

Aku belajar banyak dari bermedsos, blogwalking dan berkomentar. Kebanyakan menyenangkan tapi ada kalanya sedikit meleset, keluar konteks, atau tergawat.... disalah pahami.

Nah, yang berbahaya terakhir ini.

Sebagai komentator pilihan lebih mudah, tinggal cari yang lain, banyak bertebaran. Semua genre ada. Tapi lain bila kita yang punya akun atau blog. Saat pembaca berkurang, lha masa iya kita mau ninggalin karya sendiri HAHAHAHA....

Bagaimana cara menghadapi komentar di luar dugaan? Bagaimana trik agar tidak salah memahami maksud komentator?


Don Miguel Ruiz penulis The Four Agreements : A Practical Guide to Personal Freedom berpendapat tentang arti sebuah komentar :
Jangan dibawa ke hati. Apa yang dilakukan orang lain itu tidak sepenuhnya karena kita. Yang mereka katakan atau lakukan adalah proyeksi dari kenyataan diri mereka sendiri, mimpi mereka. Ketika anda imun terhadap opini-opini dan aksi dari orang lain, anda tidak akan jadi korban dari derita yang tidak perlu.
Diamini Guy Kawasaki dalam bukunya yang nge-hits The Art of Social Media. Ia menekankan satu hal. Awas lengah. Ketika terjadi balas membalas komentar (apalagi di medsos) saking fokusnya, seolah-olah orang lupa bahwa ADA PENONTON.

Tidak ada yang komen bukan berarti tanpa pembaca yang menilai apa yang kita tulis.

Para penonton ini jauh lebih penting daripada si komentator. Mereka bisa menilai dan mengaitkan ke banyak hal, termasuk kredibilitas bahkan latar belakang profesi kita. Iya, pembaca bahkan sampai seperti itu. Ingat kasus dokter yang bercerita tentang pasiennya? Beberapa penonton berkesimpulan akan berpikir dua kali untuk berobat pada dia.

Jadi kalau dulu di twitter ada hype kalimat : simpan argumenmu. Ya itu benar sih. Hahaha.


1. Tetap Positif Thinking sebelum Mendeteksi Maksud Komentator

Bahasa tulisan itu lebih gampang disalahpahami karena kita nggak lihat ekspresi orang yang bersangkutan (karena itu penting sekali nada dan peran emoticon).

Contoh, tulisan bahwa kita tidak setuju anak balita nonton di bioskop dengan banyak alasan. Ada komentar :

"Buat apa kita peduli sama anak orang, orang tuanya tidak peduli, kok sama anaknya"

Tentu ini kontra dengan tulisan kita yang mengandung concern. Ngajak ribut nih...

Eh, belum tentu. Tahan argumen. Kita tentu tidak tahu apa yang komentator sudah alami. Bisa jadi ia juga tidak setuju, tapi setelah berbagai cara dicoba semua gagal. Atau dia berkesimpulan itu akhirnya kembali kepada otoritas. Bentuk sarkasm. Atau berbagai tipe ekspresi lain.

Intinya adalah : assume people are good until proven bad.

Menghadapi kasus yang seperti ini lebih aman bila memancing komentator untuk menjelaskan lebih lanjut dengan pertanyaan. Dan percaya deh, mereka itu akan sangat sukaaaa sekali bila dimintai pendapat.

2. Setelah Berhasil di deteksi, Simpulkan, Terima, Hargai, Cukupkan. 

Kemudian kalau memang benar berbeda pendapat, tidak perlu mengajak argumentasi terlalu jauh. Beragumentasi tidak menghasilkan apa-apa. Terima yang komentator ingin sampaikan dan cukupkan. Tidak perlu lanjut kemana-mana atau judging. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu pengalaman orang lain, yang membuat dia bisa berkesimpulan demikian.

So let's agree to disagree.


Khusus untuk yang diatas, disarankan untuk menjawab 3 ronde seperti di adegan tinju amatir, yaitu :
  • Ada komentar.
  • Kita respon.
  • Dia masih komentar lagi.
  • OK pertandingan selesai.

Kalau di wordpress dan medsos, aku biasanya cukup kasih tanda bintang atau like setelah respon terakhir.

Bisa saja, sih aku teruskan sampai seharian sebagai ajang pembuktian bahwa aku benar atau ingin lebih menekankan pendapat. Tapi ya buat apa, untuk kepuasan apa, dan hasilnya apa?

Bila komentator kalah belum tentu dia kembali lagi, berikut pembaca lain yang diam-diam setuju tapi pilih tidak berkomentar.

3. Perhatikan pemilihan dan perkembangan kata demi kata

Bila belum kenal betul, kita tidak pernah tahu sedang berhadapan dengan orang yang jauh lebih senior atau junior!

Perlu menjaga perkembangan perkataan, hindari kalimat yang terkesan tidak sopan atau merendahkan komentator.

Misal menggunakan kata kasar atau mulai pakai bahasa gaul. Kecuali kenal, panggilan kata ganti orang kedua "lo" atau "kamu" tentu tidak tepat.

Amannya, sebelum akrab, semua orang biasa kusebut mba atau mas. Ada juga mimin atau blogger pilih panggil semua komentator "kakak". Memang ini juga ada yang nggak suka, tapi relatif lebih diterima karena jauh dari sikap sok ikrib atau senioritas.

 Sebetulnya masih ada lagi pengamatan dan pengalaman selama ini. Kapan-kapan aku tambahin lagi.
Sekarang giliran anda, bagaimana cara dan pengalaman selama ini menjawab komentar? Apakah ada pengalaman seru-seru?

Source Guy Kawasaki, Peg Fitzpatrick, Don Miguel Ruiz. Image : pixabay.com, twitter.com.

4 komentar:

  1. Benar.
    Aku juga termasuk berhati2 dalam membalas atau berkomentar.
    Takut menyinggung perasaan kalau sampai berlebihan mengomentari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya memang harus hati-hati dalam pemilihan kata mas himawan...

      Hapus
  2. Ya betul harus berhati-hati sekali. apalagi sekarang sudah ada UU ITE. bisa dipenjarakan kalo berkomentar sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, mas. Dan tidak ada keuntungannya juga bagi kita ya..

      Hapus

Instagram