Fotografi di Dalam Ruangan


Halo, sobat pembaca setia, apa kabar? Selamat datang di rumah baru saya, Living Sparkling. Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang fotografi di dalam ruangan.

Sebelumnya ijinkan saya bercerita tentang latar belakang tulisan ini.

Jadi ceritanya lama sekali saya tidak menulis, karena tengah melakukan split blog. Rencananya untuk tulisan yang berhubungan dengan still life, food, architecture dan interior, saya alihkan dari blog semula yaitu Creative Huntress ke Living Sparkling. Alasannya adalah selain ketertarikan pada tema di atas, saya juga menginginkan portofolio yang lebih spesifik dan, bahasa gaulnya "nyambung" dengan dua Instagram saya yang juga memiliki dua tema tersebut. 

Kenapa saya memakai nama Living Sparkling? Karena hanya itu nama yang tersisa  saya banyak terinspirasi oleh buku karya Marie Kondo yang terkenal The Life Changing Magic of Tidying Up. Seorang Konvert (istilah untuk penggemar KonMari Method) tentu sangat akrab dengan kalimat "Spark Joy".  Itu adalah ekspresi bila kita tengah merasakan binar-binar kegembiraan dan kebahagiaan. Ya! Hidup dengan kilau kegembiraan itu tentu sangat menyenangkan!

Gesture Spark Joy versi Marie Kondo,  
"Kyuuun..!"
Gambar : pinterest.com

Saya ingin agar pembaca bisa merasakan hal sama ketika membaca blog ini. Harapannya begitu #serius.

Awalnya memang beberapa tulisan di blog ini menjadi satu di sebuah blog hostingan. Namun karena satu dan lain hal, saya memilih tidak menggunakan hostingan dahulu. Saat melakukan "pindahan" saya mencoba memanfaatkan momentum, menantang diri sendiri #ehciee

Ahem. Cukup pembukaannya.

Mari kita bicara tentang fotografi di dalam ruangan.

Saya selalu melihat pencinta fotografi pada dasarnya terbagi menjadi beberapa, yaitu mereka yang :

  • Senang bereksperimen di studio atau di rumah, mereka fokus di foto-foto yang sangat indoor seperti food photography, potrait, interior, still life, dan sebagainya. Sebagai contoh komunitas Upload Kompakan.
  • Menggemari kegiatan lapangan alias outdoor seperti hunting human interest, landscape, arsitektur, cityscape, dsb.  Genre ini sebagian besar merajai di berbagai komunitas fotografi.
  • Menggemari keduanya dengan kecenderungan besar ke salah satu genre.
Saya termasuk mereka yang masih mencoba semua genre, namun bukan tidak mungkin akhirnya memiliki spesialisasi. Ini adalah batu pijakan pertama untuk mengarah kesana. 

Nah, sekarang mari masuk ke topik utama...

Bicara tentang fotografi indoor atau fotografi di dalam ruangan, ini sangat menarik bagi mereka yang senang dengan kegiatan menata. Bukan berarti fotografi dengan tema outdoor tidak ada penataan juga, ya. Tapi bentuk (dan lensanya) tentu berbeda dengan penataan seperti food photography, still life, interior, bahkan toys photography. 

Salah satu ciri dari fotografi indoor adalah fokus pada detail, pencahayaan, dan penataan yang cantik. Misalnya pada food photography, tentu sudah biasa bila kita menyiapkan props atau pernik-pernik agar bisa mempercantik tampilan makanan secara keseluruhan. Begitu juga pada still life, bagaimana angle pengambilan, padu padan latar belakang, agar sebuah benda atau produk terlihat cantik?

Nah, bagi anda yang memang tangannya terampil dan suka berkreasi pasti senang sekali, ya.

Penataan menjadi bagian penting dalam food photography

Memang di jaman yang canggih ini orang bisa mengabadikan semuanya dengan hape atau smartphone. Apalagi kualitas kamera beberapa smartphone sudah lumayan tinggi. Berita terakhir ada merk tertentu yang mencapai 40 MP. Wah, sudah lumayan banget kalau cuma untuk posting di website atau di instagram saja 'kan? Tapi karena penggemar fotografi rata-rata juga memiliki kamera, mari kita bicara soal lensa. Sebagai salah satu ciri lain yang membedakannya dengan fotografi di luar ruangan.

Contoh still life : rantai motor 

Untuk fotografi di dalam ruangan, lensa yang umumnya digunakan adalah jenis lensa wide, nitty fifty, atau makro (mulai dari 10-50 mm). Lensa makro atau tele  50-100 mm pada prinsipnya masih bisa digunakan bila ingin mendapatkan efek bokeh (latar di belakang obyek ngeblur) yang manis atau obyek jauh di dalam ruangan yang sangat luas. Tapi kalau ruangannya sempit siap-siap saja mundur-mundur, mentok tembok, atau senggol sana-sini. Awas, ada yang pecah! Hahaha..


Contoh penggunaan lensa tele dalam ruangan 
bila menghadapi obyek yang posisinya tinggi.

Tentu saja penggunaan lensa akan berbeda-beda untuk setiap genre. Misal, untuk food photography kebanyakan fotografer cenderung menghindari menggunakan lensa wide karena efek distorsinya. Kemudian bila memotret model wanita dengan lensa makro, siap-siap saja ketambahan PR untuk menghilangkan detail-detail yang tidak diinginkan pada wajah.  Eh. Kecuali modelnya nggak protes, sih, ya. Hahaha...

Dan sebagainya....

Mengenai pencahayaan, itu akan menjadi hal paling krusial bagi fotografi di dalam ruangan karena pasti cahaya tidak berlimpah ruah seperti di luar ruangan. Karena itu biasanya dibantu juga dengan penerangan lampu yang memadai, lampu flash, atau pencahayaan alami, yaitu dengan meletakkan obyek di dekat jendela yang mendapat paparan sinar matahari.

Contoh intensitas cahaya dengan window light 

Jadi jangan membayangkan bahwa fotografi itu selalu identik dengan foto-foto di luar dengan obyek yang layak dijadikan latar untuk selfie! Lingkup fotografi di dalam ruangan sendiri cukup luas dan beragam. Kalau kita jelajahi di Instagram, sebetulnya banyak, kok, yang kemudian malah mengerucut menjadi lebih spesifik lagi. Semua disesuaikan dengan minat dan kreativitas masing-masing atau bahkan ada yang membawa misi khusus, misal syiar alasan syar'i. Soal kasus ini, suatu saat akan dibahas tersendiri, ya. 

Mungkin ini dulu sekilas perkenalan sebagai pembuka. Ke depannya saya ingin menulis yang lebih spesifik lagi, tidak melulu soal teknis. Nantikan  kisahnya di postingan-postingan selanjutnya, ya! 

Apakah kamu suka memfoto di dalam ruangan?




10 komentar:

  1. Kalo saya lebih suka outdoor mb, tapi terkadang juga indoor terutama kalo sdh poto produk buat jualan..sama susahnya menurut sy, butuh keahlian dan teknik y mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto dalam ruangan terutama untuk memfoto produk ya..

      Hapus
  2. Saya ga terlalu suka fotografi indoor karena motretnya pakai kamera saku biasa. Walau matahari bersinar cerah, seringkali hasil foto tetap gelap, sudah pakai blitz juga. Entahlah tetap ga puas dg hasilnya, beda dg diluar ruangan hasilnya bagus klo potret2 tanaman2ku ;) .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena pencahayaan dalam ruangan kurang, harus pakai continuous light mba...kalau punya lampu2 baca yang watt nya lumayan coba dimanfaatkan untuk menyorot di sisi yang ingin diperjelas. Iya di luar lebih terang pasti..

      Hapus
  3. Wah harus sering mampir ke sini nih untuk belajar fotografi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan, terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  4. baru mampir ke blog yang ini, tantangan banget moto indoor, apalag kl cuma modal hp (dua kamera saya rusak semua-.-' sama anak) summer ini berharap dapat ganti kamera baru, pengen belajar moto2 lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm hp sekarang sudah lumayan asal cahaya bagus, mbak. Moga2 segera dapat ganti kamera baru ya

      Hapus
  5. Waaaah ntar kalau sudah jadi Living Sparklingnya, aku dicolek linknya ya. Beneran lo. Kalau boleh request, bikin postingan2 yg bisa kucontek buat latihan juga. Misalnya, posting ttg motret semangkok mie, ditulis pakai kamera apa, setting kameranya bagaimana & setting ruang/pencahayaannya seperti apa. Besok lagi posting ttg motret segelas air juga gitu. Biar bisa aku praktekkan utk belajar. Belum ada blog spt itu. Yg sudah banyak cuma foto bagusnya aja dan tips yg umum2. Makasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inshaallah, aku juga sambil belajar kok, mak Lus. Makasih usulannya, akan ditampung..

      Hapus

Instagram